DAKWAH.CO – Sudah sekian hari umat Islam menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1441 Hijriyah. Walaupun masih di awal waktu pelaksanaan ibadah. Tapi sudah sewajarnya muncul perasaan takut dan harap (khauf dan raja’) terhadap puasa yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan.

Apakah puasa kita hanya bernilai sekedar menahan rasa lapar dan dahaga? Atau kita juga berharap puasanya diterima Allah SWT?.

Sudah sewajarnya memang hati orang yang berpuasa berada dalam situasi antara rasa takut dan harap itu. Sebab, maksud dari puasa adalah agar seseorang dapat menjadi pribadi mutaqien. Bukan hanya sekedar menahan diri dari dorongan rasa lapar dan haus, yang itu akan hilang seketika saat berbuka.

Maka dari itu, berhati-hati terhadap lima perbuatan yang dapat membatalkan pahala puasa. Mulai dari berbohong, namimah (mengadu domba), ghibah (mengumpat atau memfitnah), sumpah palsu dan memandang dengan syahwat.

Semua jenis perbuatan yang dapat membatalkan (pahala) puasa itu hendaknya dijauhi. Sebaliknya, kita hendaknya menguatkan rasa takut kepada Allah SWT dalam hati. Hal itu agar kita terjaga dan terpelihara dari berbuat dosa.

Secara umum, ada tujuh perkara yang menjadi cermin dari adanya rasa takut kepada Allah SWT dalam dada seseorang. Pertama adalah terpeliharanya lisan dari perkataan dusta, menghiba dan berbicara omong kosong.

Ia hanya menggunakan lisannya untuk zikrullah, membaca al-Qur’an dan mempelajari ilmu.

Kedua adalah terpelihara perutnya dari makanan yang haram. Kemudian yang ketiga adalah terpeliharanya pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan, dan keempat adalah terpelihara tangannya dari mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.

Kelima adalah terpelihara kakinya dari perbuatan maksiat. Dan, keenam adalah terpelihara hatinya dari perasaan hasut, iri, dan dengki.

Terakhir, ketujuh adalah terpelihara ibadahnya dari penyakit riya’, dan ujub. Yaitu ibadahnya ikhlas semata mengharap ridla Allah.

Bilamana ketujuh hal tersebut ada dalam diri seseorang, insya Allah ia adalah termasuk orang yang puasanya diterima Allah SWT dan tergolong orang yang bertakwa.

Bahkan, orang tersebut berada dalam jaminan ayat berikut ini :

وَزُخۡرُفٗاۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَٱلۡأٓخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan , (Kami buatkan pula) perhisan-perhiasan dari emas. dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu hanyalah disediakan bagi orang-oarang bertaqwa (Zukhruf 43/: 35)

Orang tersebut juga akan memperoleh kenikmatan surga yang tak terhingga seperti yang digambarkan dalam Al quran surah Ad-Dukhan ayat 51-57.

Artinya: “Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (duduk) berhadapan, demikianlah, kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah”.

“Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram, mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab neraka, itu merupakan karunia dari Tuhanmu. Demikian itulah kemenangan yang agung”.

Allah juga akan menyelamatkan orang-orang bertaqwa dari siksa api neraka. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Maryam ayat 71-72.

Artnya: “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan”.

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut”.

Dengan perasaan takut dan harap (khauf dan raja’) mudah-mudahan puasa kita diterima oleh Allah SWT dan dimasukkan dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, sehingga mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah SWT seperti yang tertulis dalam ayat tersebut di atas. Aamin ya Rabbal Alamin.

Penulis: Ustad Ridwan Abubakar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here