DAKWAH.CO – Orang yang menggunakan akal sehatnya, ketika datang ajakan untuk mengikuti kebenaran, maka dia akan berpikir secara mendalam. Setelahnya, dia akan merespon dan mengikuti kebenaran jika itu memang benar. Sebaliknya, akan menolaknya jika salah.

Sementara, seorang penolak kebenaran, berpikirnya akan secara spontan. Dia juga akan menolak apapun realitas dari kebenaran itu. Apakah ajakan itu benar atau salah? dia akan tetap menolaknya.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi contoh nyata. Yakni manusia yang keras perlawanannya pada Nabi Musa yang berakhir tragis dan hina. Bahkan, semakin tidak masuk nalar sehat, ketika datang ajakan untuk mengikuti kebenaran, justru siap menerima resiko terburuk.

Allah merekam pernyataan mereka yang siap dirinya mati dan diazab bila Al-Qur’an ini benar. Berikut firman Allah :

وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٖ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (QS. Al-Anfal : 32)

Bukannya siap mengakui kebenaran, tetapi justru siap mengorbankan dirinya dan menanggung resiko kematian. Fir’aun merupakan contoh manusia paling sombong dan keras kepala di muka bumi ini, ketika datang Nabi Musa mengajaknya untuk membersihkan diri. Bukannya mengakui kebenaran berita Nabi Musa tetapi justru semakin kuat permusuhannya.

Meski Allah SWT sudah menunjukkan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa, baik tongkat yang bisa berubah jadi ular, maupun telapak tangan Nabi Musa yang bisa mengeluarkan cahaya serta berbagai musibah mulai dari paceklik atau kemarau panjang.

Siksaan berupa wabah angin topan, belalang, kutu, katak, darah, tidak melembutkan hati Fir’aun tetapi justru mengeraskan hatinya untuk memusnahkan Musa dan pengikutnya. Akhir perjalanan Fir’aun harus menerima azab berupa kematian, dan Allah menenggelamkannya ke laut.

Fir’aun merupakan contoh manusia sombong yang tidak ada kebaikannya di mata Allah, sehingga harus mati secara tragis. Dikatakan tragis, karena semua kekuasaan di genggaman tangannya, harta kekayaan, dan pengikut yang siap membela di belakangnya, namun dia menolak kebenaran yang dibawa Nabi Musa. Karena sudah tidak ada harapan perbaikan diri pada Fir’aun itulah maka Allah harus mengakhiri perjalanan hidupnya secara tragis.

Benarlah Ketika Allah berfirman :

وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيهِمۡ خَيۡرٗا لَّأَسۡمَعَهُمۡۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ

Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentu Dia jadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling, sedang mereka memalingkan diri. (QS. Al-Anfal : 23)

Andai Fir’aun ada perbaikan diri dan mau menerima kebenaran, tidak mungkin Allah akan membiarkan akhir hidupnya secara tragis. Betapa tidak, tujuh mukjizat sudah disodorkan Allah, lewat Nabi Musa, namun Fir’an semakin kokoh penolakannya. Bahkan dia berencana membunuh Nabi Musa beserta pengikutnya dengan mengerahkan seluruh bala tentaranya.

Namun memiliki rencana yang lebih matang, sehingga kokohlah kekuasaan Nabi Musa dan tegaklah agama yang dibawanya di bumi Mesir. Fir’aun merupakan contoh tragis manusia yang terbalik logikanya Ketika kebenaran datang kepadanya, lewat Nabi Musa, bukannya menerima, tetapi lebih memilih kehancuran dirinya.

Ramadhan ini merupakan kesempatan terbaik untuk menelaah isi Al-Qur’an. Bulan yang penuh berkah ini merupakan bulan diturunkannya firman Allah ini. Ketika membacanya kalimat demik kalimat, selembar demi selembar, mudah-mudahan hati kita semakin kokoh dan kuat menerima kebenaran. Semoga dengan kokoh dan kuatnya iman kita, Allah membebaskan wabah yang sedang melanda bangsa ini. Amiin.

Penulis: Dr. Slamet Muliono, Majelis Tabligh PWM Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here