DAKWAH.CO – Allah mengutus para nabi dan rasul ke dunia dengan misi khusus dan tunggal, yakni mentauhidkan Allah dan menjauhi syirik. Dalam menyampaikan risalah tauhid itu, para utusan pasti mengalami penolakan dan ancaman. Namun Allah tidak membiarkan utusannya diperlakukan dengan semena-mena oleh kaumnya.

Penolakan atau perlawanan terhadap utusan Allah sama saja dengan menghinakan Allah. Konsekuensinya, Allah memiliki hak dan kekuasaan untuk mengamankan dan melindungi para utusan-Nya yang jiwa dan raganya terancam.

Bahkan, Allah membalas persekongkolan jahat untuk menentang risalah utusan Allah. Baik dengan hukuman yang cepat (di dunia) maupun hukuman yang ditunda (di akherat).

Tugas Menegakkan Tauhid

Misi tunggal seluruh nabi dan rasul Allah adalah mengajak manusia dan jin untuk mentauhidkan Allah dan menjauhkan perbuatan syirik. Al-Qur’an menetapkan pentingnya tauhid dan larangan berbuat syirik, dan itulah risalah seluruh para anbiya’ (nabi dan rasul).

Allah banyak menjelaskan dalam ayat-ayat-Nya tentang pentingnya tauhid uluhiyah, sebagaimana firman-Nya :

۞شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.

Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama.
Perselisihan pendapat, antara utusan Allah dan kaumnya, bermula ketika ada perintah untuk mentauhidkan Allah dan melakukan penyembahan kepada-Nya.

Umumnya, utusan Allah sangat disegani dan dihormati bukan hanya oleh kaumnya, tetapi para pemuka dan pembesarnya. Namun mendadak memusuhinya Ketika utusan Allah menyampaikan risalah untuk menegakkan risaah tauhid ini. Orang-orang musyrik bukan hanya menolak untuk diajak bertauhid, tetapi mereka justru menyiapkan persekongkolan untuk melawan tegaknya tauhid ini.

Perlawanan terhadap misi penegakan tauhid sudah dialami seluruh utusan Allah, mulai dari Nabi Nuh, Ibrahim, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib, Musa, hingga Muhammad. Perlawanan itu dilakukan oleh para pembesar dan pemuka masyarakat. Para utusan Allah menyerukan kepada kaumnya untuk menyembah kepada Allah dan menjauhi perbuatan syirik, serta menjanjikan kebaikan dan kebahagiaan bila mengikuti perintahnya.

Bukannya patuh dan taat mengikuti ajakan bertauhid, tetapi justru bersekongkol mengadakan perlawanan dan memadamkan cahaya tauhid. Akhir perlawanan dari para pemuka masyarakat itu berupa adzab sehingga mereka terbunuh dan terhinakan.

Keutamaan Tauhid dan Kehinaan Syirik

Akal dan fitrah manusia condong kepada tauhid dan menolak syirik, namun hawa nafsulah yang menggiring manusia untuk condong kepada syirik. Bahkan akal sehat manusia tahu keburukan dan kejelekan syirik, dan perkara ini akan membuat manusia terjerumuss dalam kerugian dan kebinasaan.

Orang-orang yang berkeyakinan bahwa selain Allah memiliki kekuasaan untuk memberi rizki, bisa mengobati, dan mendatangkan keselamatan merupakan kebohongan. Tapi hawa nafsu, atas bisikan setanlah, yang mendorong untuk meyakini hal itu.

Bahkan akal manusia pun menyadari bahwa manusia yang terlibat dalam perbuatan syirik layak mendapatkan hukuman sebagai konsekuensi atas pelanggaran terhadap perintah Allah. Ke-Mahabesaran, ke-Mahakuasaan, serta ke-Mahabijaksanaan Allah bisa membalas kepada siapapun yang ingkar dan berani menabrak aturan.

Allah pun berkuasa untuk menyegerakan siksaan di dunia maupun menundanya hingga di akherat kelak. Bahkan Allah menjamin kehidupan yang baik bila taat dan patuh serta membalasnya dengan kehinaan bila menolak perintah-Nya. Sebagaimana firman-Nya :

: مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. (QS.Asy-Syura : 20).

Seorang hamba yang menginginkan keuntungan dan kebahagiaan di akherat maka taat dan patuh terhadap perintah-Nya harus diutamakan.

Sementara mereka yang mengedepankan penolakan dan perlawanan syariat Allah akan memperoleh kehinaan dan tiak akan memperoleh bagian sedikitpun di akherat.

Mentauhidkan Allah dan menjauhkan syirik merupakan risalah tunggal para utusan Allah yang hars disampaikan pada umatnya. Siapapun yang tunduk dan patuh mengikuti risalah utusan Allah akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akherat.

Penulis: Dr. Slamet Muliono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here